/script> Pengertian Remaja | Islamic's Teens

Labels

This is default featured slide 1 title

Money is nothing at now. Iman (ALLAH) is everything for us. Just say thank you Allah and pray for him! (Yusron Eka Sunarsono)

This is default featured slide 2 title

Identify yourself and explore your talent. Everyone has a lot of latent talent! God is always with you! (Yusron Eka Sunarsono)

This is default featured slide 3 title

Social regardless of religion, ethnicity, race, and achievement .. What matters is how we live it .. (Yusron Eka Sunarsono)s.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Pengertian Remaja. Show all posts
Showing posts with label Pengertian Remaja. Show all posts

Tuesday, November 27, 2012

Pentingnya Mengenali Diri


Siapakah diri Kita sebenarnya? Ini mungkin cuma dipahami sebagian orang saja padahal mengenal siapa diri Kita sebenarnya sebenarnya sangat penting karena akan sangat mempengaruhi siapa Kita dan bagaimana perilaku Kita. Pemahaman yang mendalam terhadap diri sendiri akan sangat membantu Kita karena dengan memahami diri bisa menggunakan potensi secara maksimal untuk mencapai tujuan hidup yang Kita idam-idamkan. Selain itu dengan mengenal diri Kita bisa memiliki keyakinan diri dan berpikir positif sehingga Kita akan terus termotivasi untuk menghasilkan sebuah karya besar.
Keyakinan akan berhasil merupakan kekuatan yang besar dan merupakan bumbu dasar yang mutlak penting bagi orang-orang yang ingin sukses. Segalanya bermula dari pikiran dan keyakinan diri karena jika Kita yakin akan sukses maka seluruh energi akan Kita kerahkan untuk mencapai apa yang Kita cira-citakan. Namun terkadang diantara Kita masih ada yang tidak yakin akan potensi yang dimiliki sehingga Kita terlalu menganggap rendah kemampuan diri sendiri. Hal tersebut yang bisa menghambat kesuksesan Kita.
Coba sekarang siapa yang tidak mengenal Tukul Arwana. Seorang entertrainer yang mampu melihat potensi dalam dirinya lebih daripada penampilan fisiknya bahkan penampilan fisiknya sekarang justru menjadi ikon dirinya. Sekarang wajah Ndeso justru menjadi kekuatan dan hal yang menjual. Bisa dibayangkan jika dulu Tukul hanya melihat kekurangan dalam dirinya bukan pada potensinya yaitu kemampuan menghibur, tentunya dia tidak akan menjadi seorang yang berpenghasilan 30 Juta dalam sekali penayangan acaranya di televisi. Tukul adalah contoh orang sukses karena keyakinan yang besar pada potensi yang dimiliki.
Kekuatan sugesti sungguh maha dasyat. Bila ditempatkan secara positif sugesti mampu mengungkapkan kekuatan-kekuatan yang menakjubkan dari dalam diri seseorang. Sugesti hampir sama dengan menghipnotis diri dan memunculkan rasa percaya diri pada seseorang. Ketika Kita mensugesti sugesti diri bahwa diri Kita mampu berprestasi, maka Kita pasti bisa melakukannya, tetapi bila Kita mensugesti bahwa diri Kita negatif, bersiap-siaplah menuju kemuraman hidup.

"Pikirkan tentang keragu-raguan, maka Kita gagal

Pikirkan tentang kemenangan, maka Kita akan berhasil"

YAKINLAH…Siapa pun PASTI memiliki POTENSI, Siapa pun dapat mengenali segala POTENSI yang dimiliki, Mengeksplorasi seluruh KEMAMPUAN, Mengasah MINAT dan KEAHLIAN, Melatih dan mengembangkan SOFT SKILL
Jangan sia-siakan ANUGERAH yang diberikanNya, Berproseslah dengan PROSES yang BENAR, Jadilah yang TERBAIK dalam bidang ANDA, Jadilah INSAN TERBAIK yang memiliki FOKUS HIDUP yang jelas, Bagaikan AIR yang mengalir pada SATU TUJUAN
KESUKSESAN adalah MILIK KITA !!!

Friday, November 23, 2012

Masa Remaja



Remaja. sebuah masa peralihan dari masa remaja ke masa dewasa. Menurut orang banyak yang sudah melewati masa ini, masa remaja adalah masa dimana masa itu tak akan pernah terulang lagi dan di masa itulah seorang remaja mulai mecari jati diri, pengenalan diri dan lingkungannya. "siapa saya? saya harus bagaimana dan apa yang sebaiknya saya lakukan..?". Seringkali pertanyaan seperti itu nantinya akan berputar- putar pada otak seorang remaja.  Lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan luar (bermai, teman sebaya, dan sekolah) nantinya akan berpengaruh sedikit banyak pada kepribadian seorang remaja. Kepribadian yang terbentuk dari seorang remaja, nantinya akan berpengaruh pada masa depan.Banyak contoh dari remaja yang salah pergaulan sehingga menyebabkan

Tuesday, September 18, 2012


Pengertian Remaja
Remaja dalam bahasa Latin adalah adolescence, yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Istilah adolescence sesungguhnya mempunyai arti yang luas, mencakup kematangan mental,emosional, social, dan fisik (Hurlock, 1991). Pandangan ini didukung oleh Piaget (Hurlock, 1991) yang mangatakan bahwa secara psikologis remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari usia pubertas.
Masa remaja adalah waktu meningkatnya perbedaan di antara anak muda mayoritas, yang diarahkan untuk mengisi masa dewasa dan menjadikannya produktif, dan minoritas yang akan berhadapan dengan masalah besar. Masa remaja, menurut Mappiare (1982), berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat di bagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12 atau 13 tahun sampai dengan 17 atau 18 tahun adalah masa remaja awal dan usia 17 atau 18 sampai dengan 21 atau 22 tahun adalah masa remaja akhir.
Remaja sebenarnya tidak memiliki tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja berada di antara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau fase “topan dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya. Namun fase remaja merupakan fase perkembangan yang berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif, emosi maupun fisik (Monks dkk; 1989).
Dari seluruh definisi remaja yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa remaja termasuk dalam kategori usia 12 tahun sampai 22 tahun, berada pada masa transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mengalami fase perkembangan menuju kematangan secara mental, emosi, fisik, dan sosial.


Saturday, September 1, 2012

Sekilas tentang REMAJA


Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun.masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak – anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak – anak menuju dewasa.
Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Dari bahasa inggris “teenager” yakni manusia usia 13-19 tahun.
Dewasa ini, kenakalan remaja telah menjadi penyakit ganas di tengah-tengah masyarakat, mengingat remaja merupakan bibit pemegang tampuk pemerintahan negara di masa depan. Lebih parah, berbagai kasus kenakalan remaja tersinyalir telah meresahkan masyarakat, semisal kasus pencurian, kasus asusila seperti free sex, pemerkosaan, bahkan pembunuhan. Oleh berbagai praktisi media bahkan para pemerhati sosial hal ini telah banyak digubris dan dicari benang merahnya. Hanya saja, sejauh ini usaha tersebut belum terlihat goal dan terkesan hanya sebagai bahan berita di media massa dan diskursus oleh berbagai kalangan yang belum ada realisasi khusus.
Sejatinya, kenakalan semacam itu normal terjadi pada diri remaja karena pada masa itu mereka sedang berada dalam masa transisi: anak menuju dewasa. Seperti pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985: 73), perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal. Terkait dengan kenakalan remaja, dalam bukunya yang berjudul “Rules of Sociological Method” disebutkan bahwa dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin dihapusnya secara tuntas. Dengan demikian, perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan dilihat pada suatu perbuatan yang tidak disengaja. Namun, kontras dengan pemikiran tersebut, kenyataan yang akhir-akhir ini terjadi adalah kenakalan remaja yang disengaja, yakni dilakukan dengan kesadaran. Miris!
Pengaruh psikologis
Remaja, seperti dikatakan di atas, yang merupakan masa transisi dari anak menuju dewasa, memiliki potensi besar untuk melakukan hal-hal menyimpang dari kondisi (baca: perilaku) normal. Seperti ada pergolakan dalam diri mereka untuk melakukakan hal-hal yang berbeda dengan yang lain di sekelilingnya, hal-hal yang dianggap normal oleh kebanyakan orang. Sependapat dengan hal itu, Becker (dalam Soerjono Soekanto, 198: 86), mengatakan bahwa mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal itu disebabkan karena setiap manusia pada dasarnya pasti mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu. Sebaliknya, orang yang dianggap normal dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang. Tak pelak, dorongan semacam itupun didasari oleh berbagai hal, seperti motif untuk mencari sensasi, bahkan karena sifat dasar remaja yang pada usia itu sedang melalui tahap mengidentifikasi, semisal yang dilakukan dari tokoh idola atau yang dianggapnya wah.

Lingkungan, Pembentuk Karakter Remaja

Selain pengaruh psikologi, lingkungan pun memiliki pengaruh vital dalam pembentukan karakter remaja yang selanjutnya akan diperankan dalam proses sosialisasinya sebagai makhluk sosial, termasuk perannya untuk berbuat kenakalan atau tidak. Seseorang dapat menjadi buruk atau jelek karena hidup dalam lingkungan yang buruk (Eitzen, 1986:10). Lebih jauh dikritisi, kondisi semacam itu memungkinkan seseorang (baca: remaja) melakukan penyimpangan karena lingkungan telah mengalami disorganisasi sosial, sehingga nilai-nilai dan norma yang berlaku telah lapuk atau seakan tinggal nama/ sebagai simbol. Dengan kata lain, sanksi yang ada seolah sudah ‘tidak’ berlaku lagi.
Remaja semacam itu yang oleh Kartini Kartono (1988: 93) disebut sebagai anak cacat sosial atau cacat mental sebenarnya sudah mengalami demoralisasi atau pemerosotan gradasi moral. Selain karena kondisi sosial di atas, kondisi keluarga pun sangat menentukan, terutama proses pendidikan dari orang tua sebagai upaya pembentukan karakter (character building) anak.
Sebagai bukti, Masngudin HMS, dalam sebuah penelitiannya tentang hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan di Pondok Pinang, Jakarta, menyebutkan bahwa salah satu sebab kenakalan adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Dari 30 koresponden, mereka yang orang tuanya otoriter sebanyak 5 responden (16,6%),overprotection 3 responden (10%), kurang memperhatikan 12 responden (40%), dan tidak memperhatikan sama sekali 10 responden (33,4%). Dari data seluruh responden yang orang tuanya tidak memperhatikan sama sekali melakukan kenakalan khusus dan yang kurang memperhatikan 11 dari 12 responden melakukan kenakalan khusus.

 
Description: Rating: 4.5 Reviewer: - ItemReviewed: